Kamis, 23 Oktober 2025

Analisis Prediksi Kredit Macet Berbasis Data Mining: Studi Kasus Koperasi Simpan Pinjam dengan Algoritma Random Forest

Pendahuluan

Sektor keuangan, terutama lembaga pembiayaan mikro seperti Koperasi Simpan Pinjam (KSP), senantiasa dihadapkan pada risiko kredit macet (non-performing loan). Kegagalan mitigasi risiko ini tidak hanya mengancam likuiditas tetapi juga keberlangsungan institusi secara keseluruhan. Dalam era digital, solusi konvensional berbasis intuisi manajer kredit mulai digantikan oleh pendekatan berbasis data. Penelitian mengenai Koperasi Simpan Pinjam Baitut Tamwil Tazakka ini menawarkan sebuah kerangka kerja prediktif menggunakan metodologi data mining CRISP-DM dan algoritma Random Forest untuk mengidentifikasi nasabah berisiko tinggi sejak dini.

Metodologi Analisis Data yang Terstruktur (CRISP-DM)

Keberhasilan proyek data mining sangat bergantung pada proses yang sistematis, dan penelitian ini mengadopsi model CRISP-DM (Cross-Industry Standard Process for Data Mining). Metodologi ini memastikan integrasi antara tujuan bisnis dan hasil teknis, yang terbagi dalam enam tahap utama:

  1. Pemahaman Bisnis (Business Understanding)

Tahap ini mendefinisikan masalah utama—yaitu tingginya risiko kredit macet—dan menetapkan tujuan analisis, yakni membangun model yang dapat memprediksi status kelayakan kredit (lancar atau macet).

  1. Pemahaman Data (Data Understanding)

Data dikumpulkan dari 190 catatan nasabah KSP. Atribut yang digunakan mencakup 14 variabel yang relevan dengan profil dan riwayat pinjaman nasabah.

  1. Persiapan Data (Data Preparation)

Data mentah diproses, termasuk penanganan nilai yang hilang (missing values), normalisasi, dan transformasi agar siap untuk pemodelan. Tahap ini krusial untuk memastikan kualitas dan konsistensi input model.

  1. Pemodelan (Modeling)

Algoritma Random Forest diterapkan. Metode ensemble learning ini dibangun dari agregasi ratusan hingga ribuan pohon keputusan, yang bekerja secara independen untuk membuat prediksi. Prinsip ini memberikan kekuatan prediktif yang superior dan stabilitas yang lebih baik dibandingkan pohon keputusan tunggal.

  1. Evaluasi (Evaluation)

Hasil model diuji untuk memverifikasi akurasinya.

  1. Implementasi (Deployment)

Model yang terbukti akurat disiapkan untuk diintegrasikan ke dalam sistem pengambilan keputusan kredit harian KSP.

 

Kekuatan Prediksi Algoritma Random Forest

Algoritma Random Forest dipilih karena beberapa keunggulannya dalam klasifikasi, terutama untuk data keuangan yang seringkali non-linear dan kompleks. Random Forest bekerja dengan cara:

  1. Pengurangan Overfitting

Dengan membuat banyak pohon keputusan dari subset data yang berbeda (bagging), dan memilih atribut secara acak pada setiap node pohon, model ini mampu mengurangi varians dan mencegah model terlalu spesifik terhadap data pelatihan.

  1. Penanganan Non-Linearitas

Berbeda dengan model statistik tradisional, Random Forest sangat efektif dalam menangani hubungan data yang tidak linier antar variabel.

  1. Akurasi Tinggi

Berdasarkan hasil penelitian, Random Forest menunjukkan akurasi prediksi yang sangat tinggi dalam mengklasifikasikan status kredit. Akurasi ini mengindikasikan kemampuan model untuk belajar secara efektif dari pola data historis, memungkinkan institusi untuk mengandalkan output model dalam membuat keputusan risiko yang sensitif.

Image of machine learning algorithm decision tree

Kesimpulan dan Implikasi Bisnis

Penelitian ini berhasil menunjukkan bahwa integrasi data mining dengan algoritma Random Forest, yang dipandu oleh metodologi CRISP-DM, adalah solusi yang ampuh untuk mitigasi risiko kredit. Model prediktif yang dihasilkan dapat menggeser proses persetujuan kredit dari yang bersifat subjektif menjadi objektif dan berbasis bukti.

Secara praktis, model ini memiliki dua implikasi utama bagi KSP Baitut Tamwil Tazakka: Pertama, ia berfungsi sebagai sistem peringatan dini (early warning system), memungkinkan manajer kredit untuk mengambil tindakan pencegahan (remedial action) sebelum kredit benar-benar macet. Kedua, model ini mendukung pengambilan keputusan strategis pada tahap awal persetujuan pinjaman, dengan memfokuskan sumber daya pada calon nasabah yang memiliki probabilitas kelancaran bayar yang tinggi, sehingga menjaga kesehatan finansial dan keberlanjutan operasional KSP di masa depan.

 

Sumber

Saputra, D. B., Atina, V., & Nastiti, F. E. (2024). Penerapan Model CRISP-DM Pada Prediksi Nasabah Kredit Menggunakan Algoritma Random Forest. Idealis: Indonesia Journal Information System, 7(2), 240–247. Tersedia secara daring di: http://jom.fti.budiluhur.ac.id/index.php/IDEALIS/index 

 

 

Ringkasan Ergonomi dan Sejarah Perkembangannya

Versi Bahasa Indonesia

Ergonomi dan Sejarah Perkembangannya

Pendahuluan

Ergonomi merupakan disiplin ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia, alat kerja, dan lingkungan kerja dengan tujuan untuk menciptakan sistem kerja yang efisien, aman, nyaman, dan produktif. Istilah “ergonomi” berasal dari bahasa Yunani, yaitu ergon yang berarti kerja, dan nomos yang berarti hukum atau aturan alam. Dengan demikian, ergonomi dapat diartikan sebagai “ilmu tentang aturan kerja manusia”

Dalam konteks industri modern, penerapan ergonomi tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan produktivitas kerja, tetapi juga untuk menjaga kesejahteraan dan keselamatan pekerja. Ergonomi menjadi bagian integral dari sistem Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), karena dapat mengurangi risiko kecelakaan kerja, kelelahan, serta gangguan muskuloskeletal. Seiring kemajuan teknologi dan industrialisasi, ergonomi berkembang menjadi ilmu multidisipliner yang mencakup aspek fisiologi, psikologi, desain, hingga teknologi digital

Konsep dan Prinsip Dasar Ergonomi

Ergonomi menitikberatkan pada kesesuaian antara pekerja, tugas, alat, dan lingkungan kerja. Tujuannya adalah untuk mengoptimalkan keseimbangan antara tuntutan pekerjaan dan kemampuan manusia. Menurut Hutabarat (2017), ergonomi memiliki beberapa tujuan utama, antara lain:

  1. Meningkatkan efisiensi dan produktivitas kerja.
  2. Mengurangi risiko kelelahan dan cedera akibat kerja.
  3. Menciptakan kenyamanan fisik dan mental pekerja.
  4. Menjamin keselamatan kerja dan keberlanjutan sistem kerja.

Prinsip dasar ergonomi meliputi fit the task to the man (menyesuaikan pekerjaan dengan kemampuan manusia) dan bukan sebaliknya. Pendekatan ini mempertimbangkan aspek antropometri (ukuran tubuh manusia), biomekanika, fisiologi kerja, dan psikologi kerja

Dalam buku Ergonomi Industri: Menciptakan Lingkungan Kerja yang Efisien dan Aman, Anggara et al. (2025) menjelaskan bahwa ergonomi terdiri atas tiga cabang utama:

  1. Ergonomi Fisik, yang mempelajari hubungan antara tubuh manusia dengan alat, mesin, dan lingkungan kerja.
  2. Ergonomi Kognitif, yang berfokus pada interaksi manusia dengan sistem informasi, persepsi, pengambilan keputusan, serta beban mental.
  3. Ergonomi Organisasi, yang menekankan desain struktur organisasi, komunikasi, dan budaya kerja agar tercapai keseimbangan antara efisiensi dan kesejahteraan

 

Sejarah Perkembangan Ergonomi

1. Masa Awal dan Revolusi Industri

Konsep dasar ergonomi telah muncul sejak manusia mulai menggunakan alat sederhana untuk meringankan pekerjaan fisik. Namun, secara ilmiah, ergonomi mulai dikenal pada masa Revolusi Industri abad ke-18. Saat itu, penggunaan mesin secara besar-besaran menyebabkan banyak kecelakaan dan kelelahan kerja. Para ilmuwan mulai mempelajari bagaimana manusia dapat bekerja lebih efektif dan aman dengan bantuan mesin

Frederick Winslow Taylor melalui Scientific Management memperkenalkan pengukuran waktu dan gerak untuk meningkatkan efisiensi kerja. Sementara Frank dan Lillian Gilbreth menambahkan aspek manusiawi dengan memperhatikan kenyamanan dan kelelahan pekerja dalam motion study mereka. Kedua pendekatan ini menjadi landasan awal ergonomi modern.

2. Perkembangan Abad ke-20

Setelah Perang Dunia II, kebutuhan akan peningkatan keselamatan dan kinerja dalam sistem militer serta penerbangan melahirkan studi sistem manusia-mesin. Inggris menjadi negara pertama yang secara resmi menggunakan istilah “ergonomi” dengan didirikannya Ergonomics Research Society pada tahun 1949. Sementara di Amerika Serikat, istilah human factors engineering digunakan untuk studi serupa.

Perkembangan berikutnya terjadi di berbagai negara industri seperti Jepang, Jerman, dan Uni Soviet, yang mulai menerapkan prinsip ergonomi dalam desain alat, mesin, kendaraan, dan fasilitas publik.

3. Era Digital dan Industri 4.0

Pada abad ke-21, perkembangan ergonomi semakin pesat dengan munculnya Industry 4.0. Konsep cyber-physical system, Internet of Things (IoT), dan artificial intelligence mendorong perubahan besar dalam interaksi manusia dan teknologi. Ergonomi kini tidak hanya membahas aspek fisik, tetapi juga mencakup ergonomi kognitif dan ergonomi digital.

Bora et al. (2025) menyebutkan bahwa pendekatan ergonomi masa depan akan berbasis pada teknologi cerdas yang mampu menyesuaikan kondisi kerja dengan kemampuan dan kesehatan individu secara real time

 

Kajian Teoritis dan Penerapan Ergonomi

1. Ergonomi dalam Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)

Firmansyah et al. (2023) menjelaskan bahwa penerapan ergonomi dalam sistem K3 merupakan bagian penting dari strategi pencegahan kecelakaan di industri. Melalui identifikasi bahaya, penilaian risiko, dan kontrol lingkungan kerja, ergonomi dapat menekan potensi cedera akibat kondisi tidak aman

Menurut teori Heinrich, sekitar 80–85% kecelakaan kerja disebabkan oleh kesalahan manusia (human error), sedangkan sisanya akibat kondisi lingkungan kerja yang tidak ergonomis. Oleh karena itu, desain sistem kerja yang mempertimbangkan faktor manusia menjadi kunci keselamatan.

2. Ergonomi dan Antropometri

Aspek antropometri merupakan fondasi penting dalam penerapan ergonomi. Wati dan Murnawan (2022) membuktikan bahwa desain alat kerja berbasis ukuran tubuh pekerja dapat meningkatkan efisiensi dan mengurangi kelelahan. Dalam penelitiannya, alat pembuat mata pisau singkong dirancang berdasarkan ukuran antropometri 25 pekerja, sehingga menghasilkan peningkatan produktivitas hingga 1.260 unit per hari dengan waktu kerja yang lebih singkat

3. Ergonomi dan Pencegahan Cedera Musculoskeletal Disorders (MSDs)

Salah satu penerapan penting ergonomi adalah dalam pencegahan Musculoskeletal Disorders (MSDs). Menurut Muhlas et al. (2024), desain ulang workstation dan pelatihan postur tubuh dapat menurunkan risiko cedera MSDs hingga 40%, sekaligus meningkatkan produktivitas sebesar 15%

Penerapan prinsip ergonomi seperti pengaturan tinggi meja kerja, posisi duduk, dan penggunaan alat bantu dapat mengurangi tekanan pada sendi dan otot. Studi tersebut juga menekankan pentingnya integrasi ergonomi dalam kebijakan K3 perusahaan.

4. Ergonomi dan Inovasi Teknologi

Dalam era digital, ergonomi bertransformasi menuju pendekatan teknologi dan inovasi. Penggunaan sensor, wearable devices, serta sistem kecerdasan buatan memungkinkan pemantauan kondisi fisiologis pekerja seperti detak jantung, postur tubuh, dan tingkat kelelahan secara otomatis.

Bora et al. (2025) menyoroti bahwa integrasi ergonomi dengan teknologi memungkinkan terciptanya sistem kerja adaptif yang mampu menyesuaikan beban kerja dengan kemampuan manusia secara dinamis. Pendekatan ini dikenal dengan istilah Smart Ergonomics, yang menjadi tren utama dalam Industrial Engineering 5.0

 

Tantangan dan Arah Perkembangan Ergonomi ke Depan

Meskipun penerapan ergonomi telah meluas, masih terdapat sejumlah tantangan, antara lain:

  1. Kurangnya kesadaran organisasi terhadap pentingnya investasi ergonomi.
  2. Keterbatasan data antropometri lokal, sehingga banyak desain kerja masih mengacu pada data populasi asing.
  3. Perubahan cepat dalam teknologi industri yang menuntut adaptasi sistem ergonomi secara berkelanjutan.

Untuk menjawab tantangan tersebut, penelitian dan pengembangan di bidang ergonomi perlu diarahkan pada:

  1. Integrasi ergonomi digital dan sistem berbasis data.
  2. Penerapan desain inklusif yang memperhatikan perbedaan gender, usia, dan kemampuan fisik.
  3. Kolaborasi lintas disiplin antara insinyur, desainer, psikolog, dan ahli kesehatan kerja.

 

 

Versi Bahasa Inggris

Ergonomics and its Historical Development

Introduction

Ergonomics is a discipline that studies the relationship between humans, work tools, and the work environment with the aim of creating a working system that is efficient, safe, comfortable, and productive. The term “ergonomics” originates from the Greek words ergon, meaning work, and nomos, meaning natural law or rule. Thus, ergonomics can be defined as “the science of the laws of human work”.

In the context of modern industry, the application of ergonomics is not only aimed at increasing work productivity but also at maintaining the welfare and safety of workers. Ergonomics is an integral part of the Occupational Health and Safety (OHS) system, as it can reduce the risk of work accidents, fatigue, and musculoskeletal disorders. Along with advances in technology and industrialization, ergonomics has developed into a multidisciplinary science encompassing aspects of physiology, psychology, design, and digital technology.

Concepts and Basic Principles of Ergonomics

Ergonomics focuses on the fit between the worker, the task, the tools, and the work environment. The goal is to optimize the balance between job demands and human capabilities. According to Hutabarat (2017), ergonomics has several main objectives, including:

  1. Increasing work efficiency and productivity.
  2. Reducing the risk of fatigue and work-related injuries.
  3. Creating physical and mental comfort for workers.
  4. Ensuring work safety and the sustainability of the work system.

The basic principle of ergonomics includes fit the task to the man (adjusting the work to human capability) and not the other way around. This approach considers aspects of anthropometry (human body measurements), biomechanics, work physiology, and work psychology.

In the book Ergonomi Industri: Menciptakan Lingkungan Kerja yang Efisien dan Aman (Industrial Ergonomics: Creating an Efficient and Safe Work Environment), Anggara et al. (2025) explain that ergonomics consists of three main branches:

  1. Physical Ergonomics, which studies the relationship between the human body and tools, machines, and the work environment.
  2. Cognitive Ergonomics, which focuses on human interaction with information systems, perception, decision-making, and mental workload.
  3. Organizational Ergonomics, which emphasizes the design of organizational structure, communication, and work culture to achieve a balance between efficiency and welfare.

History of Ergonomics Development

  1. Early Period and the Industrial Revolution

The basic concepts of ergonomics emerged since humans began using simple tools to lighten physical work. However, scientifically, ergonomics began to be recognized during the Industrial Revolution in the 18th century. At that time, the widespread use of machines caused many accidents and work fatigue. Scientists began studying how humans could work more effectively and safely with the aid of machines. Frederick Winslow Taylor, through Scientific Management, introduced the measurement of time and motion to increase work efficiency. Meanwhile, Frank and Lillian Gilbreth added the human aspect by considering worker comfort and fatigue in their motion study. Both of these approaches became the early foundation of modern ergonomics.

  1. 20th Century Development

After World War II, the need for increased safety and performance in military and aviation systems led to the study of human-machine systems. The United Kingdom was the first country to officially use the term “ergonomics” with the establishment of the Ergonomics Research Society in 1949. In the United States, the term human factors engineering was used for similar studies. Subsequent developments occurred in various industrial countries such as Japan, Germany, and the Soviet Union, which began applying ergonomic principles in the design of tools, machines, vehicles, and public facilities.

  1. Digital Era and Industry 4.0

In the 21st century, the development of ergonomics has accelerated with the emergence of Industry 4.0. Concepts like the cyber-physical system, the Internet of Things (IoT), and artificial intelligence are driving major changes in the interaction between humans and technology. Ergonomics now addresses not only physical aspects but also includes cognitive ergonomics and digital ergonomics. Bora et al. (2025) mention that the future approach to ergonomics will be based on smart technology capable of adjusting working conditions to the individual's capabilities and health in real-time.

Theoretical Review and Application of Ergonomics

  1. Ergonomics in Occupational Health and Safety (OHS)

Firmansyah et al. (2023) explain that the application of ergonomics in the OHS system is an important part of the accident prevention strategy in industry. Through hazard identification, risk assessment, and control of the work environment, ergonomics can suppress the potential for injuries resulting from unsafe conditions. According to Heinrich's theory, about 80–85% of work accidents are caused by human error, while the remainder are due to non-ergonomic work environment conditions. Therefore, designing work systems that consider human factors is key to safety.

  1. Ergonomics and Anthropometry

The aspect of anthropometry is a crucial foundation in the application of ergonomics. Wati and Murnawan (2022) demonstrated that the design of work tools based on workers' body measurements can increase efficiency and reduce fatigue. In their research, a cassava blade maker tool was designed based on the anthropometric measurements of 25 workers, resulting in a productivity increase of up to 1,260 units per day with shorter working hours.

  1. Ergonomics and the Prevention of Musculoskeletal Disorders (MSDs)

One important application of ergonomics is in the prevention of Musculoskeletal Disorders (MSDs). According to Muhlas et al. (2024), the redesign of the workstation and posture training can reduce the risk of MSDs injury by up to 40%, while also increasing productivity by 15%. The application of ergonomic principles such as adjusting the height of the workbench, seating position, and the use of auxiliary tools can reduce pressure on joints and muscles. The study also emphasizes the importance of integrating ergonomics into company OHS policies.

  1. Ergonomics and Technological Innovation

In the digital era, ergonomics is transforming towards a technology and innovation approach. The use of sensors, wearable devices, and artificial intelligence systems allows for the automatic monitoring of workers' physiological conditions such as heart rate, posture, and fatigue levels. Bora et al. (2025) highlight that the integration of ergonomics with technology enables the creation of adaptive work systems capable of dynamically adjusting the workload to human capabilities. This approach is known as Smart Ergonomics, which is a major trend in Industrial Engineering 5.0.

Challenges and Future Direction of Ergonomics

Although the application of ergonomics has become widespread, several challenges remain, including:

  1. Lack of organizational awareness regarding the importance of investing in ergonomics.
  2. Limitations in local anthropometric data, leading many work designs to still refer to foreign population data.
  3. Rapid changes in industrial technology that demand continuous adaptation of ergonomic systems.

To address these challenges, research and development in the field of ergonomics need to be directed towards:

  1. Integration of digital ergonomics and data-based systems.
  2. Application of inclusive design that considers differences in gender, age, and physical abilities.
  3. Cross-disciplinary collaboration among engineers, designers, psychologists, and occupational health specialists.

 

Daftar Pustaka

  1. Firmansyah, R., Kurnia, H., Nugroho, I., Kenedy, J., & Safi, A. (2023). Perancangan Ergonomi dalam Keselamatan dan Kesehatan Kerja: Kajian Literature Review. Jurnal Teknik Industri, 4(1), 87–96. Universitas Pelita Bangsa.
  2. Wati, P. E. D. K., & Murnawan, H. (2022). Perancangan Alat Pembuat Mata Pisau Mesin Pemotong Singkong dengan Mempertimbangkan Aspek Ergonomi. JISI: Jurnal Integrasi Sistem Industri, 9(1), 59–69.
  3. Hutabarat, Y. (2017). Dasar-Dasar Pengetahuan Ergonomi. Malang: Media Nusa Creative.
  4. Anggara, I., Butarbutar, F., Apriyanto, A., Hasibuan, A., Hanafie, A., Indriyati, C., & Herbanu, A. (2025). Ergonomi Industri: Menciptakan Lingkungan Kerja yang Efisien dan Aman. Padang: Literaksi Press.
  5. Bora, M. A., Ndari, P. W., Haryawan, I. G. A., & Masril, M. A. (2025). Ergonomi Industri: Pendekatan Teknologi dan Inovasi. Yayasan Tri Edukasi Ilmiah.
  6. Muhlas, M., Hargiansyah, R. R. P., & Dakhi, Y. J. (2024). Penerapan Ergonomi untuk Mengurangi Resiko Cedera Musculoskeletal Disorders (MSDs) dan Meningkatkan Produktivitas di Industri. Kohesi: Jurnal Multidisiplin Saintek, 5(6).

 

 

Disusun oleh

Mohamad Ikbal

Prodi S1 Teknik Industri Universitas Teknologi Digital

 

Alamat Web Universitas Teknologi Digital    https://digitechuniversity.ac.id 

Akun IG  Universitas Teknologi Digital     https://www.instagram.com/digitechuniversity.official/ 

Akun IG Prodi Teknik Industri    https://www.instagram.com/ti.digitech/  

Akun IG Himpunan Teknik Industri    https://www.instagram.com/himti.digitechuniversity/  

Akun IG Pribadi    https://www.instagram.com/ibyzhl/ 

  

Analisis Prediksi Kredit Macet Berbasis Data Mining: Studi Kasus Koperasi Simpan Pinjam dengan Algoritma Random Forest

Pendahuluan Sektor keuangan, terutama lembaga pembiayaan mikro seperti Koperasi Simpan Pinjam (KSP), senantiasa dihadapkan pada risiko kre...